Beranda | Artikel
Peringatan terhadap Fitnah Dunia
22 jam lalu

Peringatan terhadap Fitnah Dunia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 28 Rabiul Awal 1448 H / 8 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Peringatan terhadap Fitnah Dunia

Imam As-Suyuthi mencantumkan riwayat dari sahabat Sahl bin Sa’ad, Anas bin Malik, Suwaid bin Amir Al-Anshari, serta Abu Hurairah. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan mengenai kedudukan Gunung Uhud.

أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

“Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Bukhari)

Dalam kitab At-Tanwir Syarh Al-Jami’ As-Saghir, Imam Ash-Shan’ani menukil penafsiran Abus Sa’adat Ibnul Atsir dari kitab An-Nihayah fi Gharibil Hadith wal Atsar. Menurut beliau, kecintaan tersebut diartikan secara majaz atau kiasan, yaitu ditujukan kepada penduduk di sekitar Gunung Uhud, yakni kaum Anshar.

Namun, Imam Ash-Shan’ani menjelaskan bahwa penafsiran kiasan tersebut terasa kurang mengena jika dikaitkan dengan penyebutan Gunung Uhud secara langsung. Sebagian ulama menafsirkannya secara tekstual, yaitu Gunung Uhud secara nyata mencintai dan dicintai. Penafsiran ini lebih tepat dan lebih mendalam karena Allah ‘Azza wa Jalla mampu memberikan perasaan cinta kepada benda-benda mati.

Beberapa riwayat lain menguatkan pemahaman bahwa benda mati dapat memiliki perasaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam Shahih Muslim, beliau menyebutkan adanya batu di Makkah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebelum diutus menjadi Rasul.

إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ

“Sungguh aku mengetahui ada sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, dan aku mengenalnya sekarang.” (HR. Muslim)

Selain itu, terdapat riwayat mengenai batang pohon kurma yang biasa dijadikan tempat bersandar oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat berkhotbah. Ketika mimbar dibuat dan beliau berkhotbah di atasnya, batang pohon tersebut menangis tersedu-sedu seperti anak kecil karena tidak lagi dijadikan tempat bersandar.

Kecintaan terhadap Hal-Hal Duniawi yang Dibenarkan

Kecintaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap perkara tertentu di dunia juga disebutkan dalam riwayat Imam An-Nasa’i dan Imam Ahmad dengan sanad yang shahih. Dalam riwayat tersebut, beliau menyebutkan hal-hal duniawi yang dijadikan terasa dicintai oleh beliau beserta keutamaan shalat.

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan aku mencintai dari perkara dunia kalian: wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku ada di dalam shalat.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Selain Gunung Uhud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menunjukkan kecintaan beliau terhadap Kota Makkah. Dalam riwayat At-Tirmidzi, beliau pernah bersabda ketika berada di dekat Makkah:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَىَّ…

“Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang terbaik dan bumi yang paling aku cintai. Seandainya pendudukmu tidak mengusirku, aku tidak akan keluar dari engkau.” (HR. Tirmidzi)

Kemuliaan Gunung Uhud dan Para Sahabat

Pada peristiwa Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik ke Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Gunung tersebut sempat bergetar, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اُثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Tenanglah wahai Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Gelar shiddiq merujuk kepada Abu Bakar, sedangkan dua orang syahid merujuk kepada Umar dan Utsman. Peristiwa ini menunjukkan bahwa benda mati memiliki kelebihan tertentu atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut bersumber dari wahyu dan bukan dari hawa nafsu beliau.

Peringatan terhadap Fitnah Dunia

Pembahasan berikutnya berkaitan dengan fitnah dunia. Pembahasan ini terdapat dalam Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad dari Mus’ab bin Sa’ad secara mursal.

Riwayat mursal adalah riwayat yang disampaikan oleh seorang tabi’in secara langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa menyebutkan sahabat yang menjadi perantaranya. Karena sanadnya tidak bersambung, riwayat mursal berstatus lemah. Namun, riwayat ini dapat diterima karena terdapat jalur periwayatan lain yang menguatkannya.

Dalam riwayat penguat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan kepada umatnya:

إِحْذَرُوا الدُّنْيَا فَإِنَّهَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ

“Waspadalah kalian terhadap dunia, karena sesungguhnya dunia itu hijau dan manis.”

Menurut Ibnu Al-Atsir dalam kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadith, ungkapan hijau dan manis menggambarkan sesuatu yang sangat segar dan menawan sehingga menarik perhatian manusia.

Penguat lainnya juga terdapat dalam Musnad Imam Ahmad yang dinilai shahih sesuai syarat Imam Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai pengelola di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal.” (HR. Ahmad)

Ancaman Fitnah Dunia dan Wanita

Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi untuk diuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat yang telah diberikan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan tegas mengenai bahaya fitnah dunia dan wanita.

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Waspadailah dunia dan waspadailah wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah masalah wanita.” (HR. Muslim)

Ujian dunia mencakup berbagai bentuk dan tidak terbatas pada wanita. Sebagian orang runtuh ketahanannya saat dihadapkan pada kekayaan. Demi memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, mereka rela menghalalkan segala cara, termasuk menipu dan berbuat zalim. Padahal, harta kekayaan tersebut tidak akan dibawa mati.

Hakikat Rezeki dan Keserakahan Manusia

Hakikat rezeki seseorang adalah apa yang ia makan, gunakan, dan sedekahkan sebagai bekal masa depan di akhirat. Harta sisanya yang tidak dikonsumsi atau digunakan pada hakikatnya bukanlah rezeki orang tersebut. Banyak orang mengoleksi pakaian mahal yang tidak pernah sempat dipakai, atau berhadapan dengan makanan melimpah padahal kapasitas perutnya terbatas. Kendati demikian, watak serakah sering membuat seseorang mengabaikan orang-orang di sekitarnya saat memperoleh kekayaan.

Hal serupa berlaku pada jabatan, popularitas, dan status sosial. Meskipun kebutuhan materi telah tercukupi, sebagian orang tetap berambisi mengejar kedudukan hingga akhirnya tertipu oleh fitnah dunia.

Perlindungan dan Waspada terhadap Fitnah Wanita

Dunia diciptakan hijau dan menawan sehingga berpotensi membuat manusia terbuai dan melupakan akhirat. Peringatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkait wanita bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan untuk memojokkan kaum perempuan. Perempuan berisiko menjadi sasaran orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu. Oleh karena itu, para wali berkewajiban menjaga kaum wanita di bawah tanggung jawab mereka.

إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar, setan akan memperindahnya.”

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain fitnah wanita.” (HR. Muslim)

Penyimpangan sering kali terjadi ketika seseorang berada di puncak kesuksesan. Tanpa ketakwaan dan pemeliharaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, keberhasilan justru dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan. Ingat,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amalan seseorang itu dinilai dari bagian akhirnya.” (HR. Bukhari)

Kehancuran di akhir hayat dapat merusak rekam jejak kebaikan yang pernah diukir sebelumnya. Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala fitnah.

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Memohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56609-peringatan-terhadap-fitnah-dunia/